Announcement

Collapse
No announcement yet.

Roro Mendut (Bagian 6)

Collapse
X
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Roro Mendut (Bagian 6)



    Roro Mendut menggeser tubuhnya lebih rapat lagi sambil menatap tajam ke arah Krisna. Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat Krisna begitu tertekan.

    Akhirnya Krisna menceritakan semua kejadian yang dialaminya sepanjang hari itu kepada Roro Mendut. Setelah bercerita, Krisna lalu memeluk Roro Mendut dengan erat, persis sama seperti ketika Krisna memeluk ibunya ketika masih kecil. Pelukan ibu itu selalu bisa mendamaikan suasana hati. Ah, seandainya ibu masih ada....

    Roro Mendut sadar kalau hari ini sangat berat bagi Krisna. Dia lalu memeluknya dengan erat, mencium keningnya dan membelai rambut Krisna.

    Suasana di dalam kamar lalu menjadi hening, melebihi keheningan di luar rumah. Cicak-cicak yang terlihat merayap di langit-langit kamar seketika tertegun. Keheningan membuat mereka takut. Dengan perlahan cicak-cicak itu lalu meninggalkan kamar itu melalui celah yang terdapat pada dinding papan kamar itu. Lalu sayup-sayup terdengar suara ngorok lembut dari Krisna yang ternyata sudah tertidur dipelukan Roro Mendut. Roro Mendut tersenyum lalu mencium hidung Krisna. "Tidur nyenyaklah sayang. Aku akan selalu menjagamu..."

    ***

    Dua minggu sudah berlalu sejak Krisna melarikan diri ke daerah pinggiran Muntilan ini. Kini Krisna merasa lega. Sepertinya Imam dan anak buahnya tidak dapat mengendus keberadaan Krisna dan Roro Mendut. Seperti rencana semula, Krisna sudah memutuskan untuk tinggal di pinggiran desa ini. Dia akan bertani dengan menanam sayuran untuk menopang kehidupan mereka, sama seperti ketika dia masih kecil dulu.

    Uang hasil penjualan patung Roro Mendut yang kemarin itu juga bisa menjadi bekal hidup untuk dua tahun ini. Dengan demikian dia bisa fokus untuk mengukir dengan tenang tanpa harus memikirkan biaya hidup. Apalagi kini ada Roro Mendut bersamanya. Roro Mendut ternyata mampu memberi spirit dan energi yang tidak habis-habisnya bagi Krisna untuk bekerja dan "bekerja...."

    Sore hari itu Krisna terlihat mengukir sebuah replika kisah sejarah seperti yang terdapat pada relief di candi yang dilihatnya kala itu. Entah mengapa sejak kehadiran Roro Mendut bersamanya, Krisna merasa kecepatan dan kualitas ukirannya jauh lebih bagus dari sebelumnya. Setelah menyeruput kopinya, Krisna lalu berhenti bekerja dan menatap dalam-dalam pada ukiran tersebut. Matanya terpana melihat hasil pekerjaan yang baru saja dikerjakannya sekitar sepuluh hari yang lalu itu. Biasanya dia akan membutuhkan waktu stidaknya dua bulan untuk mencapai progres pekerjaan seperti ini. Krisna lalu tersenyum sumringah, jelas ini karena faktor Roro Mendut yang selalu menginspirasinya.

    Krisna lalu mengamati relief ukiran kayu tersebut. Dia lalu terkesima melihat tokoh-tokoh yang terdapat pada relief yang seperti sebuah untaian cerita yang utuh itu. Ada sosok seorang petinggi yang duduk diatas kudanya. Disebelah kudanya tersebut berdiri tegak seorang patih dengan sorot mata tajam sambil melipat tangannya. Disekeliling mereka terlihat belasan pengawal yang tampak seperti tukang pukul dengan mata garang. Di depan mereka terlihat sepasang kekasih yang duduk diatas tanah dengan wajah memelas penuh ketakutan.

    Krisna kemudian melotot menatap ukiran tersebut. "Hah!" teriaknya kaget. Tokoh-tokoh yang terdapat di relief itu sangat dikenalinya! Penunggang kuda itu wajahnya mirip sekali dengan pak Raharja, pejabat tinggi dari jakarta yang memesan patung Roro Mendut. Patih yang berdiri disamping kuda itu sebelas dua belas dengan wajah pak Imam!

    Orang yang duduk diatas tanah dengan wajah ketakutan itu mirip sekali dengan Roro Mendut dan dirinya sendiri! "Jiah!" teriaknya sambil melemparkan ukiran tersebut keatas bara api pembakaran sampah. Tak beberapa lama kemudian nyala api dari sampah mulai menjilati ukiran kayu tersebut.

    "Ada apa kang mas?" tanya Roro Mendut yang baru saja keluar dari dapur ketika mendengar suara tinggi Krisna. "Ah tidak apa-apa dinda, tadi ada semut api yang menggigit kakiku" jawab Krisna sambil menenangkan dirinya. Roro Mendut hanya tersenyum mendengar jawaban Krisna. "yah sudah, saya beresin dapur dulu ya mas, nanti gantian saya yang gigit kaki mas..." jawab Roro Mendut genit sambil masuk lagi ke dalam rumah. Krisna hanya cengengesan saja melihat pinggul Roro Mendut yang kemudian menghilang dibalik pintu. Urusan "gigit-menggigit" sejenak melupakan kegalauan hati Krisna....

    ***

    Malam sudah semakin larut. Suara jangkrik dan tokek sayup-sayup terdengar saling sahut-sahutan di pekarangan rumah. Krisna terbangun dari tidur ketika dinginnya malam menyergap perutnya yang terbuka. Rupanya dia tadi kelupaan memakai kaos oblong dan sarung tidur kebesarannya...

    Krisna terpana, tidak mungkin dia tidur tanpa kaos dan sarung itu! Setelah celingak-celinguk, dia lalu menemukan "mereka" tergeletak di lantai kamar persis dibawah ranjang. Krisna lalu meraihnya, dan segera mengenakannya. Maklumlah pikirnya geli. Beberapa kali "tertawa cekikikan" ditengah malam sering membuat orang menjadi pelupa....

    Senyum di wajah Krisna mendadak pudar ketika dia meraih gelas air dari atas meja. Sekilas melalui celah jendela kamar, dia melihat nyala api dari lubang tempat sampah yang berjarak sekitar sepuluh meter dari kamarnya. Mengapa api dari lubang tempat sampah itu tetap menyala? Padahal Krisna membakarnya pada sore hari, dan tadi malam juga turun hujan yang lumayan deras. Seharusnya air hujan pastilah akan memadamkan nyala api itu...

    Rasa penasaran yang tak tertahankan memaksa Krisna keluar dari rumah untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi. Mata krisna menatap tajam ke arah ukiran kayu yang dicampakkannya tadi sore. Ukiran relief pada kayu itu bukannya terbakar, tetapi malahan nyala api itu membuat warna pada relief itu semakin jelas, seperti diplitur.. dan kini sosok-sosok pada relief itu terlihat nyata, lalu menatap tajam ke mata Krisna!

    Krisna terkesiap. Bulu tengkuk dan tangannya berdiri seketika. Dalam sepersekian detik, Krisna lalu mencampakkan gelas ditangannya itu ke dalam lubang tempat sampah dan berlari masuk ke dalam rumah!

    (bersambung)
Working...
X