Announcement

Collapse
No announcement yet.

Roro Mendut (Bagian Terakhir)

Collapse
X
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Roro Mendut (Bagian Terakhir)



    Tak berapa lama kemudian Krisna membuka matanya. Pikirannya sudah tenang, bahkan kini sangat tenang dan mantap. Krisna lalu mendekat kepada Roro Mendut dan berkata dengan lembut, "Dinda, aku sangat beruntung dan tersanjung mengenalmu. Dulu aku bukan siapa-siapa sampai kamu kemudian datang untuk membuka mataku, dan memberiku arti dari sebuah cinta. Aku tak ingin berbohong padamu. Aku takut, bingung dan tak tahu harus bagaimana. Tapi satu hal yang aku yakini, aku sangat mencintaimu dan ingin selalu bersamamu, hidup atau pun mati...." Sambil menutup matanya Krisna lalu mengecup kening Roro Mendut dengan lembut. Terlihat dua titik air pada sudut matanya.....

    Roro Mendut lalu memeluk Krisna dengan erat. Dia memang tidak salah pilih! Jejaka Milenial ini memang sangat berbeda dengan "lelaki pejantan" pada zamannya. Lelaki Milenial sepertinya lebih romantis, lembut dan lebih menghormati kaum perempuan. Sejak pertama kali Krisna mengukir wujudnya pada kayu keramat itu, Roro Mendut selalu mengamati dengan kagum wajah dan kepribadian Krisna.

    Tanpa disadarinya, hal itu malah membuatnya jatuh cinta kepadanya dan kehilangan segala kesaktiannya. Akan tetapi ucapan tulus Krisna tadi jauh lebih berarti dari kesaktian itu sendiri. Itulah yang dicarinya selama ini. Roro Mendut dan perempuan sezamannya mustahil mendengar kata-kata indah seperti yang diucapkan oleh Krisna tadi....

    "Ah.. selama ini aku berjuang menembus ruang dan waktu untuk mencari seorang lelaki yang bisa kucintai dan sekaligus benar-benar mencintaiku apa adanya. Kini aku sudah mendapatkannya. Lalu apalagi yang harus kukhawatirkan..? bisik Roro Mendut dalam hatinya. Hidup itu fana dan akan berakhir. Tetapi cinta akan tetap abadi menembus ruang dan waktu untuk selalu kembali kepada pemilik sejatinya....

    Tidak perduli apakah mereka masih akan bersama seratus tahun lagi, ataukah akan terpisah esok hari, kini Roro Mendut tidak terlalu perduli lagi. Yang penting mereka dapat menikmati kebersamaan mereka selagi ada waktu...

    ***

    Dinginnya udara pagi yang berkabut seketika menyergap perut Krisna yang terbuka. Dengan mata yang separuh tertutup Krisna lalu berusaha meraih kaos oblong dan sarungnya di bawah ranjang. Dinginnya lantai semen ketika tersentuh jemari tangan segera menyadarkannya. Pakaiannya tidak ada disitu! Sontak Krisna duduk diatas ranjang. Ternyata sarungnya berada di kaki ranjang, sementara kaosnya berada disamping lemari pakaian. Mungkin beberapa kali "tertawa cekikikan" membuat kos itu menyingkir jauh bisik Krisna geli. Dia lalu mengenakan pakaiannya itu...

    Tiba-tiba Krisna terkejut. Ukiran relief kayu yang dicarinya itu kini tergantung pada dinding kamar! Seketika bulu kuduknya berdiri. Tetapi dia kemudian mengeraskan hatinya untuk menatap dalam-dalam kepada relief yang diukirnya tersebut. Ternyata Roro Mendut sudah terbangun juga.

    "Kang mas, waktunya sudah dekat. Kini mereka sudah mengetahui keberadaan kita melalui ukiran relief kayu yang kang mas ukir ini. Sebentar lagi mereka akan tiba disini. Aku ingin bertanya sekali lagi kepadamu, dan mohon dijawab dengan serius. Apakah kang mas benar-benar yakin mencintaiku dan ingin selalu bersamaku, hidup maupun mati?." Roro Mendut bertanya dengan wajah serius.

    "Kang mas, kalau sekiranya kang mas tidak yakin mencintaiku, maka sekaranglah saatnya bagi kang mas untuk pergi. Aku berjanji padamu, mereka tidak akan pernah dapat menemukanmu kalau sekiranya kang mas meninggalkan rumah ini dan berjanji tidak akan pernah kembali lagi ke daerah ini. Satu hal lagi, kita juga tidak akan pernah bisa bertemu lagi, dan kang mas akan segera melupakan wajahku untuk selamanya...."

    "Dinda, aku tidak berbohong ketika mengatakan aku sangat mencintaimu dan ingin selalu bersamamu hidup maupun mati. Itu bukan hanya untuk semalam atau hari ini saja, tetapi untuk selamanya sayang. Dan kalau sekiranya aku berbohong, kamu pasti akan segera mengetahuinya juga kan?" jawab Krisna serius.

    "Kang mas, kalau begitu mungkin kita masih mempunyai peluang untuk bersama. Yang penting kang mas harus percaya kepadaku. Apakah kang mas yakin masih mau tetap bersamaku, sekalipun kita nanti hidup di alam yang berbeda dari sekarang? tanya Roro Mendut serius.

    "Dinda, aku tidak perduli apakah nanti kita hidup sebagai patung ukiran ataukah sebagai arca, sepanjang kita selalu bisa bersama!" jawab Krisna tegas.

    Roro Mendut terpana menatap wajah Krisna. Air mata bahagia jatuh membasahi pipinya. Roro Mendut lalu mencium dan memeluk Krisna dengan erat. "kinilah waktunya sayang. Tutup matamu rapat-rapat dan peluk aku dengan erat dan jangan pernah melepaskannya. Jangan perdulikan apa yang kang mas dengar dan jangan pernah membuka mata sebelum saya perintahkan. Mereka sekarang sudah mengepung rumah ini, dan sebentar lagi akan masuk ke dalam rumah. Ayo. Cium dan peluk aku sekarang...."

    Krisna lalu menutup matanya, mencium dan memeluk Roro Mendut dengan erat. Bumi seketika berhenti berputar pada porosnya dan waktu menghentikan langkahnya...

    Krisna kemudian merasakan sensasi seperti ketika pertama kalinya berciuman dengan Roro Mendut. Sensasi hangat itu mengalir dan merasuk keseluruh tubuh, menenangkan perasaan Krisna.

    Sang waktu kemudian berlari mundur dengan cepat, membuat Krisna menjerit karena pusing yang tidak terkira sampai semuanya kemudian berjalan normal... Krisna melayang tinggi ketika melihat waktu berputar mundur beberapa ratus tahun kemudian. Krisna kemudian melihat deretan candi-candi dan stupa-stupa yang berdiri tegak dengan angkuhnya. Dari kejauhan Krisna melihat para petani yang membajak di sawah dengan kerbau mereka di lereng gunung Tidar. Semuanya tampak indah dan harmonis. Krisna sangat menyukai apa yang dilihatnya itu...

    Sayup-sayup terdengar suara gaduh dan ribut ditelinganya. Lalu terdengar suara Roro Mendut berbisik lembut, "jangan buka mata dulu sayang, sebentar lagi kita akan sampai.." Krisna lalu mengangguk sambil tetap memeluk Roro Mendut dengan erat. Tak beberapa lama kemudian, Krisna merasa berada ditempat yang lain dimana bau hijau daun-daunan segar sangat terasa...

    "Apakah kita sudah sampai?" bisik Krisna penasaran kepada Roro Mendut ketika suara kegaduhan tadi berubah menjadi keheningan.

    "Iya sayang, kita sudah sampai. Tetapi kanda masih bisa melihat sekali lagi untuk terakhir kalinya keadaan rumah kita sebelumnya"
Working...
X